So 90's, So Seru
Lagi nonton MTV, 100 Greatest Songs in the 90's...
Kurang lebih lagu-lagu yang muncul, Cypress Hill sampe Billy Ray Cyrus, inget dong sama si rambut gobeldo (gondrong belakang doang) yang nyanyi Achy Breaky Heart itu?
Nggak nyadar, gue ikutan nyanyi lagu-lagu itu, termasuk lagu yang dulu sering gue dan temen-temen celain, Achy Breaky Heart.
Ada lagunya The Breeders yang judulnya Cannonball. Gue sih nggak pernah beli album mereka, tapi lagu itu nyantol sampe sekarang.
Mungkin bakal keinget seumur idup gue, secara bass line-nya masih sering gue mainin kalo latian band. Sadar gak sadar. Pengaruhnya
ternyata cukup kuat.
Trus ada The Cranberries dengan Linger-nya. Begitu intro, gue dari dapur udah tau itu lagu apaan. Dan, again ikutan nyanyi bareng
Dolores.
Nah, lanjut lagi...nongol Gregg Alexander. Wek, ehh...sapa tuh? Mungkin kalo gue sebut New Radicals lebih banyak yang tau. Dia ini
mastermind, vokalis, sekaligus yang ngebubarin New Radicals setelah rilis album pertama. Lagunya yang keinget sama banyak orang sampe sekarang pastinya Someday We'll Know. Mungkin mp3 lagu ini ada di iTunes/folder lagu-lagu lo, ya gak?
Ada juga Paula Cole...biduanita yang buat gue teknik nyanyinya flawless. Nggak mungkin kayaknya dia ini nyanyi out of tune atau maksa atau nggak enak kedengerannya. Pertama denger Where Have All The Cowboys Gone?, gue mikir, lagu gini doang, tapi kok jadi bikin beda sama lagu-lagu lain...
Lanjut ke Sarah Mclachlan. Gue berutang jasa kreatif pencarian nama anak dari dia. Again, selalu ada cerita di balik biduan dan biduanita era 90an ini.
Itu baru sampe di urutan 80, pastinya masih bakalan banyak cerita seiringan countdown berlanjut nanti. Gak tau kapan lanjutnya, mudah-mudahan sempet nonton.
Ada perasaan seneng, seru campur menerawang balik ke zaman dulu pas nonton acara itu. Udah 10 tahunan lalu, jo!
Era 90an, emang banyak cerita, secara kita (kita? Gue kali!) masih kuliah, masih nyari-nyari sesuatu yang gue sendiri nggak tau apaan.
Gue dapet the bestest friends, best and sad moments in life, best lessons in life, etc. Makin berasa begitu denger musik 90s...
Jadi kepikiran, apa karena era itu musiknya top abis, even musik non-rocknya, jadi bisa terus keinget? Atau karena pas musik itu
muncul, kebetulan pas sama suatu momen di idup yang otomatis bikin gue keinget? Atau karena dua-duanya?
ada yang salah? hajar!
Sekitar awal musim Liga Inggris, tepatnya tanggal 19 Agustus 2007, Liverpool ketemu Chelsea di Anfield, stadion kebanggaan Liverpool.
Gol pertama Liverpool dihasilkan oleh Fernando Torres pada menit ke 16 dengan aksi individu yang bikin dia dicintai sama publik Anfield. Chelsea mulai kerja keras untuk nyamain skor.
Suatu kejadian luar biasa akhirnya terjadi...
Bola operan dari Frank Lampard ke depan kotak penalti seperti akan disambut oleh Florent Malouda, tapi yang ada dia malah nabrak Steve Finnan di dalam kotak penalti.
Penalti! Menurut wasit, Rob Styles.
Apa yang terjadi abis itu? Frank Lampard mengeksekusi penalti dan gol. 1-1.
Setalah itu? Pertandingan terus berlangsung sampai habis.
Kelar tanding ada apa? Gak jelas juga. Mungkin pemain pada mandi, trus pulang. Yang nonton, juga mungkin ada yang langsung pulang, ada yang nge-bar dulu, ada yang nangis, terserah merekalah!
Nggak berantem? Nggak ada beritanya sih. Mungkin ama pacar atau istrinya, mungkin aja sih. Yang jelas nggak ada tawuran antar suporter, aparat, dll.
Keputusan wasit jelas sangat merugikan Liverpool. Seharusnya itu nggak penalti. Karena bukan pelanggaran. Pemain bertahan ditabrak oleh pemain yang nyerang. Jelas wasit ngawur! Setelah pertandingan itu, Rob Styles dihukum nggak boleh mimpin pertandingan untuk 1-2 pertandingan karena ngelakuin keputusan yang salah banget!
Itulah sepakbola. Kadang keputusan wasit salah, kadang bola kena tiang mulu, kadang tim kita bermain cantik tapi harus kalah karena keputusan bodoh sang wasit. Lalu, harus berantem gara-gara keputusan wasit salah? Ngapain? Emangnya di kampung kita, Indonesia tercinta...
jatuh cinta di bali
itu yang kejadian sama gue pas minggu lalu ke bali.
pertama liat tu cewek, langsung jatuh cinta deh. orang bilang, jangan percaya kalo kenalan sama cewek di bar/cafe, karena bakal menipu di kegelapan. oh, nggak menipulah kalo yang ini, secara dia keliatan jelas di bawah lampu panggung.
selain cantik, main biola pula. beneran deh, rasanya mata nggak boleh dan nggak mau dialihkan ke tempat lain. meski dia adalah istri dari Rio, si pemain trumpet, gitar, vocal, dan leader of the band, tapi gak apa-apa kan menikmati kecantikan karya Tuhan?
dan, ternyata, yang jatuh cinta, nggak cuma gue, tapi begitu juga dengan temen-temen gue yang baru pertama kali nonton dia main.
cewek itu adalah Sally, pemain biola sebuah band.
nama bandnya Saharadja. nggak nyangka bisa liat band keren ini. gue pikir di hari pertama di bali, gue cuma akan melewatinya dengan kebosanan diiringi musik ajep ajep. ternyata, kali ini gue beruntung. beruntung karena bisa jatuh cinta sama musik keren yang dimainin Saharadja. band beranggotakan seorang sosok cantik.
buat yang ke bali, mungkin bisa sekali-sekali dateng ke Obsession, tempat Saharadja memainkan musiknya yang kurang lebih berwarna world music campur jazz, campur rock.
I am a fan, guys. Just call me if you need a bass player. :)
I loved you since I knew ya
I wouldnt talk down to ya
I have to tell you just how I feel
I wont share you with another boy
I know my mind is made up
So put away your make up
Told you once I wont tell you again its a bad way
(Roxanne by The Police)
Lagu yang diperkosa abis oleh Saharadja. Sting would be quiet proud, I think.
How To Save A Life (The Fray)
Buat orang-orang yang udah lama nggak ketemu, entah emang udah 'jauh', lagi sibuk, atau emang nggak ketemu lagi aja...
Hope you guys are doing okay.
Step one you say we need to talk
He walks you say sit down it's just a talkHe smiles politely back at you
You stare politely right on through
Some sort of window to your right
As he goes left and you stay right
Between the lines of fear and blame
You begin to wonder why you came
Where did I go wrong, I lost a friend
Somewhere along in the bitterness
And I would have stayed up with you all night
Had I known how to save a life
Let him know that you know best
Cause after all you do know best
Try to slip past his defense
Without granting innocence
Lay down a list of what is wrong
The things you've told him all along
And pray to God he hears you
And pray to God he hears you
Where did I go wrong, I lost a friend
Somewhere along in the bitterness
And I would have stayed up with you all night
Had I known how to save a life
As he begins to raise his voice
You lower yours and grant him one last choice
Drive until you lose the road
Or break with the ones you've followed
He will do one of two things
He will admit to everything
Or he'll say he's just not the same
And you'll begin to wonder why you came
Where did I go wrong, I lost a friend
Somewhere along in the bitterness
And I would have stayed up with you all night
Had I known how to save a life
ada apa dengan italia?

Banyak banget jawabnya, dari tim-tim sepakbolanya, mafia, mode, cowok casanova, dan ekspresi. Yup, ngeliat orang Italia ngobrol pasti seru dengan segala bahasa tubuhnya yang ekspresif banget, termasuk suka diving dan pura-pura mati di lapangan bola kalo ke-tackle.
Mungkin karena keekspresifannya itu yang bikin Danny Clinch ngebet banget ngefilmin Pearl Jam pas tur di negeri pizza selama kurang lebih seminggu. Sampe akhirnya pun bikin Eddie bela-belain ngomong bahasa Italia mulu pas konser, meskipun sambil baca kebetan.
Ekspresi dan keindahan Italia bikin film Immagine In Cornice jadi begitu nikmat ditonton. Dan, tentu saja ngeliat gimana Eddie Vedder adalah orang biasa yang udah menikmati statusnya sebagai vokalis dan pemimpin band besar, sekaligus seorang ayah. Bisa diliat gimana dia masih sempet main dan ngobrol sama anaknya Olivia. Malah Olivia sempet nontonin sang ayah ngerusak tambourine, dari sisi panggung.
Di film ini gue ngerasa banget energi yang keluar dari Pearl Jam pas di atas panggung. Entah karena suasana penonton yang ekspresif itu tadi atau memang karena Eddie dkk selalu ngasih sesuatu yang maksimal di atas panggung. Eddie mulai manjat rig lagi, lari-larian di atas panggung. Jadi keinget Pink Pop pas Eddie lompat dari atas jimmy jib ke penonton. Emang sih gak sampe lompat lagi, tapi energinya kurang lebih sama. Jatoh-jatohnya karena kesandung pun kurang lebih mirip.
Lagu-lagu yang dibawain kebanyakan diambil dari album terakhir, tapi tetep ada lagu lama kayak State Of Love and Trust dan pastinya Porch. Nonton PJ maenin Porch lagi dengan Matt Cameron yang ngedrum, kok enak ya? Nikmat di mata dan telinga. Belom lagi ditambah Blood! Matt emang dewa dan teriakan Eddie masih bertenaga seperti kita denger di Vs.
Film ini emang begitu nikmat di mata dan telinga.
We've spent a week in Italy. Next time, maybe it will be for a month. Maybe be for the rest of ourlives. – EV